IQNA

20:31 - June 24, 2019
Berita ID: 3473204
IRAN (IQNA) - Saat rudal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melumat kebanggaan legendaris AS, mimpi indah Donal Trump, presiden Amerika Serikat, buyar dan ia berpartisipasi pada pertemuan darurat 90 menit dan menyatakan akan membalas dendam, tetapi ia segera menarik sikapnya.

Menurut laporan IQNA; Kamis pagi (20 Juni 2019), berita Reuters mengutip dari sebuah sumber militer Amerika yang mengatakan bahwa sebuah pesawat Drone milik Komando Pusat Amerika Serikat terbang di perairan internasional (yang, tentu saja, tetap berada di dalam perbatasan Iran, dan sumber-sumber AS membantah ini), di atas Selat Hormuz dan Garda Revolusi Iran merudal Drone tanpa awak tersebut, yang terjadi pada pukul 4.05 pagi.

Catatan/ Drone Amerika, Trump dan Harapan-Harapan Kandas

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Abdullah Husaini

Dalam hal ini, Direktur Markas Islam Afrika Selatan, Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Abdullah Husaini menulis catatan yang teksnya ada di bawah ini:

Rasulullah saw bersabda: “Pukulan pedang Ali pada hari Khandaq lebih utama dari ibadah jin dan manusia.”

Pada hari itu, menurut Nabi, seluruh kekufuran keluar menentang seluruh Islam, jumlah pasukan kafir seratus kali lipat dari pasukan kecil 70 orang Islam. Amr bin Abdi Wud adalah seorang jawara dan kesatria Quraisy yang tidak pernah kalah dalam berperang, dan namanya menggetarkan orang-orang Arab. Dalam Perang Khandaq, ia keluar dengan congkak dan menantang duel pasukan Islam. Ada keheningan pada pasukan Islam, tetapi seorang pemuda tampil dan menawarkan diri untuk pergi ke medan laga. Nabi tidak menerimanya.

Sekali lagi Amr berteriak lantang, Hai para sahabat Muhammad, mana surga yang kalian duga akan memasukinya jika kalian terbunuh? Siapakah di antara kalian yang menginginkannya?”. Sekali lagi keheningan menyelimuti suasana, dan lagi-lagi anak muda tersebut mengajukan diri, dan lagi-lagi Nabi menganjurkan untuk bersabar. Ketiga kalinya Amr berteriak lantang, "Tenggorokanku mengering. Berapa banyak telah berteriak, Apakah kalian menyerah? "Kali ini, pemuda itu, Ali bin Abi Thalib, mendapatkan izin dari sang Nabi untuk pergi ke medan laga dan, dalam pertempuran yang sengit, pertama-tama Ali menjatuhkan kudanya, dan kemudian menyabet Amar lalu membunuhnya dan membawa kepalanya. Ratusan ribu pasukan Kafir yang menyaksikan pertempuran seorang muda Muslim dengan Amr akhirnya tidak meneruskan pertempuran dan demikianlah kemenangan besar Islam dalam perang melawan orang-orang Yahudi.

Sabetan pedang Ali pada hari Khandaq, telah membunuh Amr bin Abdi Wud. Menurut Nabi, lebih tinggi dari ibadah tsaqalain (jin dan manusia). Hari ini, seluruh kebenaran berhadapan dengan seluruh kebatilan, seluruh Islam berhadapan dengan seluruh kekafiran.

Catatan/ Drone Amerika, Trump dan Harapan-Harapan Kandas

Drone Amerika tak lain adalah Amr bin Abdi Wud, dimana Amerika Serikat hanya memiliki dua saja darinya saja dan bangga memilikinya. Menurut pihak berwenang negara itu, sebelum insiden ini, drone itu tidak dapat dideteksi atau dihancurkan, oleh karena itu, hanya membuat dua drone saja dan tidak perlu membuat lebih banyak lagi, karena tidak berniat untuk menjualnya. Mereka tidak berpikir bahwa drone tersebut akan hancur dalam perang. Sementara itu, sarana canggih Amerika dengan suara diam diterbangkan di 67.000 meter dari tanah Iran, yang ditumbangkan oleh  Korps Garda Revolusi Islam.

Amerika Serikat dan sekutunya adalah pasukan besar tersebut yang membanggakan kapal induk Abraham Lincoln dan dronenya, dan mereka ambisius dan menempatkan semua opsi di atas meja, tetapi ketika rudal IRGC itu melumat kebanggaan legendaris Amerika, mimpi presiden Amerika Serikat pun pudar dan dia berpartisipasi dalam pertemuan darurat 90 menit dan mengumumkan bahwa dia akan membalas dendam dan segera mundur dari keputusannya dan mengirim tweet yang memalukan.

Catatan/ Drone Amerika, Trump dan Harapan-Harapan Kandas

Pertama-tama, Trump menulis dengan nada mengancam bahwa Iran telah melakukan kesalahan besar, yaitu, tunggulah konsekuensinya. Kemudian dia menulis bahwa orang-orang Iran tidak dengan sengaja meledakkan drone ini dan ada kesalahan, perubahan ini tentu saja menunjukkan bahwa dia ingin menjaga kehormatannya.

Dalam pesan berikutnya, Trump menulis bahwa ia seharusnya menargetkan tiga titik tanah Iran, tetapi 10 menit sebelum tindakan ini, saya bertanya berapa banyak orang yang seharusnya terbunuh, dikatakan 150 dan dikarenakan darah 150 orang, ia telah berpaling untuk membalas dendam; sungguh pria yang santun! Saya berharap ketika Presiden AS, Harry S. Truman melakukan pemboman nuklir Hiroshima, dia menanyai penasihatnya tentang jumlah korban.

Catatan/ Drone Amerika, Trump dan Harapan-Harapan Kandas

Amerika Serikat, dengan kehadiran militernya di berbagai belahan dunia, telah menewaskan 50 juta orang selama setengah abad terakhir, lantas Trump sendiri menunjukkan kebaikannya dan membiarkan darah 150 manusia?

Amerika Serikat telah meremehkan kekuatan Pengawal Revolusi Iran. Penembakan rudal legendaris ini adalah pengulangan sabetan pedang yang telah menghentikan kaum Yahudi untuk melanjutkan perang Khandaq.

 

http://iqna.ir/fa/news/3821245

 

 

 

 

Nama:
Email:
* Komentar Anda: